
Negara adalah pengatur aktivitas perdagangan nasional. Setiap bentuk perdagangan sudah menjadi sebuah kewajiban bagi negara untuk menentukan dan meneliti keabsahan transaksi yang di lakukan. Negara juga mendapatkan hak untuk mendapatkan keuntungan dari sebuah aktivitas dagang.
Suatu negara yang memiliki kesibukan dengan berbagai transaksi yang dilakukan, seharusnya memiliki mekanisme yang dapat mengatur aktivitas tersebut. Jangan sampai transaksi yang dilakukan malah berdampak buruk bagi negara, bahkan membuat negara tersebut malah terbelit hutang. Setiap aktivitas, walaupun pasti memiliki dampak negatif dan positif, seharusnya dilakukan atas dasar bukan hanya mencari keuntungan semata ,tetapi aktivitas perdagangan yang memiliki mekanisme yang baik harus di landaskan pada kemanusiaan. Sebab, jika suatu negara hanya mengandalkan keuntungan semata, walaupun tujuan akhirnya adalah untuk mensejahtrakan warganya, maka negara tersebut hanya menilai suatu transaksi berdasarkan kuantitasnya saja, bukan kualitasnya. Artinya, negara tersebut hanya menilai banyaknya hasil yang didapat bukan penyebab yang akan di timbulkan atas transaksi yang dilakukan.
Indonesia merupakan negara yang banyak melakukan berbagai transaksi dalam ruang lingkup antar negara. Peningkatan transaksi yang di lakukan Indonesia tiap hari kian bertambah. Pada bulan november 2010 saja, kegiatan ekspor yang di lakukan indonesia meningkat 6,52 Persen, dan kegiatan impor naik 7,85 Persen. Selain itu, Indonesia juga dianggap sebagai negara yang memiliki potensi yang besar dalam pengembangan suatu investasi. Setiap investor berusaha untuk menanamkan modal mereka di Indonesia dengan tujuan untuk memenangkan persaingan di kalangan investor dunia.
Tetapi, bagaimana dengan perdagangan dalam negeri? Perdagangan yang terjadi di dalam negeri berlangsung dari tingkatan warga-warga tingkat bawah hingga tingkat atas. Meskipun banyak terjadi aktivitas perdagangan dalam negeri, yang mendominasi perdagangan tersebut adalah warga-warga tingkat atas. Sedangkan warga-warga tingkat bawah mulai pasrah untuk beralih menjadi konsumen dalam perdagangan.
Investor asing juga mempengaruhi kemunduran perdagangan dalam negeri. Walaupun para investor asing menanamkan banyak modalnya di Indonesia, Hal itu malah berdampak buruk bagi perdagangan dalam negeri. Para pedagang tingkat bawah mulai terganggu dengan beroprasinya toko-toko yang di bangun oleh para investor. Kita dapat melihat bahwa pembangunan toko-toko korporasi asing lebih cepat dari pada perkembangan usaha-usaha lokal. Tidak hanya itu, para kaum investor juga berusaha menggulingkan berbagai usaha yang di jalankan oleh warga-warga tingkat atas. Para investor dengan akal bulusnya berusaha tampil sebagai penyelamat perekonomian bangsa, selain itu, mereka juga menyamar sebagai pelaku peningkatan kesejahtraan.
Pemerintah seharusnya menjadi juru selamat para warganya. Tetapi, tindakan yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia sepertinya jauh dari tindakan seorang juru selamat. Mereka malah terkesan memperburuk suasana. Kita tentu masih ingat dengan keputusan pemerintah tentang perdagangan bebas antar negara ASEAN dengan Cina (ACFTA). Walaupun isu tersebut mulai tenggelam di kalangan masyarakat umum, dampak yang di timbulkan masih di rasakan oleh para pedagang dalam negeri. Pasalnya, barang-barang Cina sudah melekat di masyarakat, selain murah harganya, barang-barang Cina di nilai memiliki kualitas yang baik, walaupun masih di bawah kualitas barang Jepang.
Dalam menghadapi kecaman perdagangan bebas, pemerintah sepertinya perlu melakukan langkah-langkah strategis dalam menyelesaikan problem ekonomi yang sudah menelan banyak korban ini. Tindakan tersebut dapat berupa sikap perlawanan pemerintah akan kebijakan yang di keluarkan oleh Cina dalam forum negara-negara, atau dapat berupa penyosialisasian kepada masyarakat tentang dampak yang akan di timbulkan oleh kegiatan perdagangan bebas.
Minggu, 06 Februari 2011
Pasar VS Korporasi
Diposting oleh The Luxury di 18.39 0 komentar
Label: Ekonomi
Anomali Ekonomi

Ekonomi Indonesia sekarang sudah memasuki babak baru. Berbagai hal bermunculan, mulai dari yang berdampak menyengsarakan, maupun yang membahagiakan rakyat. Contohnya adalah Penurunan kurs rupiah terhadap dolar saat ini, yang dampaknya cukup besar terhadap perkembangan pengimporan dan pengeksporan negara Indonesia. Tetapi, saat 2010 yang lalu, Indonesia juga mengalami inflasi besar-besaran. Inflasi Indonesia bahkan mencapai angka 6,96 persen.
Pemerintah dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid duanya berupaya dengan sekuat tenaga untuk memajukan perekonomian Indonesia. Saat presiden memilih para mentri-mentrinya, khususnya dalam bidang ekonomi, para menteri langsung membuat berbagai aturan. Walaupun terdapat para menteri yang mendapatkan rapot merah, presiden masih cukup berbangga hati atas prestasi yang diperoleh Indonesia dalam bidang ekonomi.
Baru-baru ini Bank Dunia mengeluarkan peringkat terbaru mengenai Pendapatan Domestik Bruto negara-negara dunia. Peringkat-peringkat atas masih tetap di miliki oleh negara-negara industri dunia seperti Amerika Serikat (14.119 miliar us$), Jepang (5.069 miliar us$) China (4.985 miliar us$), Jerman (3.330 miliar us$), Prancis (2.649 miliar us$), dan Inggris (2,174 miliar us$). Tetapi, dalam ranking PDB tersebut terdapat satu hal yang sangat membanggakan. Pada peringkat PDB tersebut, Negara Indonesia menempati posisi ke-18 (540,3 miliar us$) pada total pemasukan Negara yang terjadi di tahun 2010 lalu. Indonesia bahkan dapat mengalahkan Swiss (491,9 miliar us$) dan Belgia (471,2 miliar US$).
Selain itu, Indonesia berhasil menggapai prestasi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Di saat negara-negara yang lain sedang mendapatkan berbagai macam problem dalam perkembangan ekonominya, Indonesia dengan sangat luar biasa menampilkan keunggulannya dengan memperoleh angka 5%, dari targetan 6%, dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebenarnya hal tersebut merupakan suatu hal yang lumrah. Indonesia merupakan negara yang mempunyai berbagai macam fasilitas yang di berikan oleh Tuhan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam hal. Bahkan negara Indonesia di juluki dengan sebutan Zambrut Katulistiwa, yang berarti bahwa Indonesia merupakan ujung tombak dunia, Indonesia memiliki hutan yang benar-benar luas, kekayaan tambang yang begitu melimpah, di tambah hasil laut yang sangat memadai. Negara Indonesia juga di huni oleh banyak anak-anak pintar. Berbagai prestasi di torehkan oleh mereka untuk kebangkitan Indonesia, baik dalam bidang akademik, maupun non akademik. Saat ini , Indonesia juga sedang di lirik oleh para investor asing guna menanamkan banyak modalnya. Indonesia di lirik sebagai negara yang memiliki andil besar dalam perdagangan dunia. Indonesia juga di nilai memiliki banyak potensi yang luar biasa.
Tetapi, jika kita melihat Indonesia lebih dalam lagi. Pada tahun 2010 lalu Indonesia melakukan 20 pinjaman baru sejak januari hingga 30 juni 2010. Indonesia mulai berhutang lagi kepada badan-badan asing ,seperti Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA), Badan Pembangunan Prancis (AFD), dan The International Bank for Reconstruction and Development (IBRD).
Pada hakekatnya, jika pendapatan suatu negara lebih besar dari pada pengeluarannya, maka suatu negara sudah pasti akan mendapatkan untung dan tidak akan meminjam dana untuk menambal kekurangannya itu , tetapi kenyataannya berkata lain. Walaupun pemasukan Indonesia terbilang banyak, baik itu dari sektor real maupun non real, tetapi Indonesia juga melakukan banyak pengeluaran pada tahun 2010 lalu.
Indonesia telah mengeluarkan banyak anggaran untuk menutupi bunga yang belum terbayar,di tambah banyaknya pengeluaran yang terkesan tidak terlalu berguna, contohnya saja mengenai masalah pemilu kada yang menghabiskan dana lebih dari Rp.10 trilyun, atau mengenai gaji para pejabat pemerintah yang ditambah berkali-kali lipat. Berbagai macam masalah kejahatan, seperti masalah Gayus dan Bank Century, juga mempengaruhi pengeluaran uang Negara.
Bukan hanya itu, jika kita melihat dari sisi perdagangan internasional yang di lakukan Indonesia, walaupun banyak usaha yang telah di lakukan masyarakat dan pemerintah guna menaikan citra barang buatan Indonesia. Kegiatan pengeksporan yang dilakukan oleh Indonesia masih kalah jika kita bandingkan dengan pengimporannya, menurut Badan Pusat Statistik, walaupun kegiatan Ekspor pada November 2010 Meningkat 6,52 Persen, kegiatan Impor November 2010 masih lebih banyak dengan kenaikan 7,85 Persen. hal tersebut tentu sangat memukul beban para pengusaha lokal. Selain mereka harus menambah kerja keras dalam menghadapi pergolakan pasar bebas yang terjadi antara Indonesia dengan Cina dan negara ASEAN, pemerintah pada tahun 2011 ini malah menambah beban mereka dengan menaikkan Tarif Dasar Listrik yang lebih berdampak pada pengusaha-pengusaha lokal. Dengan semakin memburuknya kinerja eksportir pemerintah, hal tersebut membuat pendapatan Indonesia lebih kecil jika di bandingkan dengan pengeluarannya.
Tetapi, dari mana pendapatan-pendapatan yang begitu besar di terima oleh Indonesia? Jika kita melihat nilai kurs rupiah Indonesia saat ini, walaupun sudah menjadi lebih baik jika di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, nilai tukar rupiah masih jauh jika di bandingkan dengan dollar. Hal tersebut membuat harga barang ekspor menjadi sangat murah, dan harga barang impor menjadi mahal. Jadi, pengeksporan dan pengimporan yang di lakukan oleh negara tidak berpengaruh terlalu besar terhadap pendapatan suatu negara.
Hal yang perlu kita kritisi sebenarnya adalah mengenai pajak. Pajak merupakan satu-satunya pemasukan yang dapat berpengaruh besar pada pendapatan suatu negara. . Tidaklah mengherankan jika suatu negara memungut pajak kepada rakyatnya. Tetapi, hal tersebut menjadi sebuah anomali jika pajak yang dipinta oleh suatu negara begitu besar, bahkan sampai mendominasi pendapatan suatu negara. Menurut Departemen Keuangan saja, jumlah pajak yang di pinta oleh pemerintah kepada rakyatnya pada tahun 2010 mencapai 742,7 trilyun Rupiah.
Pajak yang besar seharusnya berimbas pada infrastruktur yang baik. Tetapi kenyataannya infrastruktur di Indonesia tidak mengalami kemajuan. Pajak yang begitu besar juga berakibat buruk kepada mental masyarakat. Terutama kepada kaum kecil.Hal tersebut membuat bertambahnya jumlah kemiskinan di Indonesia yang mencapai angka 14,15 persen..
Akibat buruk tersebut seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah. Walaupun Indonesia berhasil meraih peringkat ke-18 dalam peringkat PDB sedunia. Janganlah hal tersebut menjadi sebuah euforia bagi pemerintah. Pemerintah adalah pelayan bagi rakyatnya. Saat hak rakyat mulai terasa terambil, pemerintah seharusnya bersikap tegas pada hal-hal semacam itu
. Bukan malah mengagungagungkan keberhasilan Indonesia yang terlihat ambigu.
Diposting oleh The Luxury di 17.36 0 komentar
Label: Ekonomi